Selasa, 16 April 2013


kuselipkan Al-fatihah dari yaasin sampai ke ”Amin” untuk kakek dan nenek



            Sewaktu kecil saya sangat dekat sekali dengan kakek dan nenek saya, saya biasa memanggil mereka dengan sebutan “papih dan mamih”. Papi dan mami adalah sosok yang sangat saya kagumi.papi dengan kebijaksanaan dan kharismatiknya,dan mami dengan kedisiplinannya. Saking dekatnya saya selalu sedih kalau kakek hendak pergi dinas luar kota ke Jakarta.
 Saya selalu tidak dibolehkan ikut karna saya juga harus sekolah. Kakek dinas di badan legislatif(DPR-RI) dan bergerak di bidang organisasi keislaman ,seminggu sekali beliau pulang ke sukabumi saya pun selalu senang kalau kakek pulang.
 Kalau kakek pulang pasti kakek tidak lupa membelikan saya,kakak dan adik oleh-oleh. Saya sangat sayang mereka, Kakek orang yang terus menerus didalam rutinitas kesehariannya menciptakan momen-momen kiat didalam pergerakan kehidupan baik di
bidang sosial, politik dan terutama kepesantrenan.
beliau selalu memberikan satu ushuwah dan pedoman terhadap khalayak untuk mentradisikan budaya empati dengan berpedoman sembahyang,berdoa, dan bekerja. Beliau simpatik kepada sesama dan juga termasuk orang yang penyayang. Mudah-mudahan disuatu hari nanti saya bisa mandapatkan pasangan hidup seperti beliau.amin.
 Dari delapan bersaudara kakek adalah putera pertama dari K.H.Badri Sanusi Bin K.H.Ahmad Sanusi, Kakek adalah seorang pemuka agama begitu juga dengan saudara-saudarnya K.H.Karim Kasim,.SH (Alm), K.H.Maman Abdurahman,,K.H.Dadang Marzuki(Alm),Prof.Dr.K.H.Dedi Ismatullah Mahdi, dan Hj.Neni fauzia,sebagai penerus perjuangan Pondok Pesantren Syamsul’Ulum Gunung Puyuh Sukabumi.Selain dinas di Jakarta, kadang Kegiatan beliau selalu diisi dengan mengisi ceramah dari satu majelis ke majelis lainnya.
Di sukabumi kakek adalah pemimpin dari yayasan Syamsul’ulum gunung puyuh beliau adalah generasi ke... Kakek adalah orang yang setia, beliau sangat sayang kepada nenek saya. Kesetiaan dan rasa sayang beliau terhadap nenek saya selalu beliau tunjukkan entah itu dengan membelikannya sebuah barang yang diinginkan nenek ataupun mengajaknya pergi makan bersama. Saya selalu bahagia melihatnya. Tetapi kebahagiaan itu tak kunjung bertahan, pada bulan....tahun... nenek jatuh sakit dan harus dirawat d Rumah Sakit.
Setelah melewati beberapa proses check-up ternyata dokter mendiagnosis bahwa nenek saya terkena penyakit diabetes serta komplikasi.betapa kagetnya saya setelah mendengar diagnosis tersebut. Sedih,jatuh dan selau kepikiran akan penyakit nenek. itu yang saya selalu rasakan disetiap hari saya. setiap hari saya selalu menjenguk nenek saya di Rumah sakit, tepatnya di Rumah Sakit Advent Bandung, saya tak bisa menahan tangis setiap kali saya menjenguk nenek di Rumah Sakit.
 Pada waktu itu pikiran dan perasaanku kacau sekali,aku takut...aku takut kehilangan nenek, aku sayang nenek, aku ingin terus menerus mendampingi nenek, aku ingin nenek melihatku tumbuh dewasa,menjadi seorang mahasiswa begitupun seterusnya. Waktu demi waktu terus berlalu almanak pun terus berganti lembaran baru, pun selama itu nenek masih terbaring di rumah sakit.
Badan..tangan..kaki..smuanya sudah tidak bisa digerakkan pandangan mata pun kosong. Semua keluarga selalu mengirim doa untuk nenek. Yang di rumah maupun yang sedang menemani di rumah sakit semuanya terus menerus berdoa tanpa henti. Ketika itu aku sangat haru melihat wajah kakekku yang terus menerus berdoa dengan denyut tasbih ditangan.”Subhanallah” betapa sayang dan setianya beliau pada nenek. Disamping kesedihan itu aku pun selalu berusaha untuk menghibur kakek, dengan cara apapun akan aku lakukan untuk kakek agar kakek tersenyum, agar kesedihan, kecemasan yang kakek rasakan itu setidaknya bisa hilang dan saya bisa melihat kakek tersenyum sumbringah.
Setiap senyum kakek tiba-tiba hilang aku pun mencoba untuk selalu mengembalikan senyumnya kakek. Setiap satu senyuman itu sangat berarti bagi saya, karena kebahagiaan keluarga saya adalah kebahagiaan saya juga. Waktu terus berlalu tak terasa satu bulan sudah nenek dirawat di Rumah sakit. Bukan malah membaik tapi keadaan nenek malah semakin tidak bisa diprediksi.
Sudah banyak alat bantu yang dipasang di tubuh nenek. Seperti oksigen, kateter, selang makan,alat pendeteksi detak jantung dll. Sambil melihat nenek di ruang rawat aku mencoba mengirimkan suggesti pada yang maha kuasa.” Tuhan yang maha baik, saya hanya ingin meminta satu permintaan pada-Mu saya hanya ingin nenek sembuh dan bisa berkumpul, canda tawa lagi bersama kami di rumah tercinta.”amin
Pada saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri kalau nenek sembuh saya janji akan selalu menemani nenek,saya janji akan menuruti nasehat-nasehat dari beliau,saya janji akan berusaha lebih baik lagi dari pada sebelumnya. 
Hal yang membuat saya bisa berikir seperti karena sebelumnya saya pernah tidak mau menemani nenek dan lebih memilih bermain bersama teman-teman, dan saya kadang tidak mendengarkan nenek ketika nenek memberikan nasehat pada saya. ya Allah satu bulan telah lewat nenek belum juga membaik, aku pikir setalah sekian lama mendapat perawatan yang intensif di rumah sakit, kondisi nenek akan kunjung membaik. Ternyata waktu berkata lain, Tuhanpun berkehendak lain, dokterpun sudah tidak bisa memberikan prediksi yang konkrit atas kondisi nenek, keluargapun sudah menyerahkan semuanya pada Allah SWT.
            “Inalillahi wa inna ilaihi raajiun”  Allah ternyata begitu cepatnya menjemput nenek. Semua sedih menangisi kepergian nenek. Aku pun tak kuasa menahan kesedihan itu ‘’Ya Allah ya Rabb” aku masih ingin bersama nenek, aku masih ingin nenek melihatku masuk SMA,kuliah dan kerja.
            Padahal ketika itu nenek pernah bilang pada saya bahwa nanti ketika saya masuk kuliah nenek ingin sekali menemani saya di tempat kost, menunggu saya pulang kuliah dan makan siang bersama. Tapi sirnalah sudah keinginan itu. ya Allah, aku ingin membahagiakan nenek dalam segala hal. Astaghfirullah..ya Allah aku beserta keluarga telah mengikhlaskan segalanya.
            Sirene menangis sepanjang jalan. Bunga-bunga duka berjatuhan di lazuardi. Semua orang yang mengiringi mobil ambulans sejenak menoleh bagai pelayat matahari. Disaat semuanya berselimut air mata kesedihan disana aku melihat ketegaran kakekku, disaat aku menangis dan melihat ketegaran kakekku sejenak air mata saya berhenti. Disana saya sadar ternyata saya harus belajar untuk mengikhlaskan segalanya.
            Setelah tujuh langkah meninggalkan tanah makam nenek yang masih basah saya baru pertamakali merasakan kehilangan yang sangat-sangat”Ya Allah semoga engkau selalu senantiasa memberikan cahaya penghidupanMu kepadanya dimanapun ia berada.amin.”
Selang sebulan kepergian nenek, kakek jatuh sakit dan penyakitnya pun sama seperti penyakit almarhumah nenek.  Disaat itu saya tiba-tiba teringat ketika nenek sakit, dan saya pun tidak mau kehilangan orang tersayang dalam hidup saya untuk kedua kalinya. Keluarga saya pun mengeluarkan jurus ekstra dan selalu mematau  kondisi kakek agar kakek tidak lupa minum obat dan selalu menjaga kesehatannya.
            Yah tapi kakekpun harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit,kakek di rawat di rumah sakit yang sama sewaktu nenek sakit ”ADVENT”.  Doa...doa..dan doa selalu terucap dari bibir kami sekeluarga. Alhamdulillah kakekpun akhirnya sehat dan bisa kembali lagi berkumpul di rumah bersama keluarga dan kembali lagi beraktifitas di yayasan.
Tapi kesembuhan kakek tak begitu lama, kakekpun harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit. Seminggu sudah kakek dirawat, dan kejadiannya sama seperti alm.nenek, kakek sama sekali sudah tidak bisa merespon apa yang kami katakan seperti antara sadar dan tidak sadar. Selama dirawat di rumah sakit perkembangan kondisi kakek sangat tidak stabil kadang hasilnya stabil dan kadang juga labil. Setelah beberapa minggu di rawat kondisi kakek semakin tidak menunjukkan kemajuan, “Ya Allah saya tidak mau kejadian sembilan bulan lalu terulang lagi, saya sudah kehilangan nenek dan saya tidak mau kehilangan kakek”.
            Ternyata selang sembilan bulan kepergian nenek, kakek dipanggil oleh yang maha kuasa sekarang kakek sudah tenang disana, kakek sekarang sudah bisa menyusul kepergian nenek,kenapa engkau begitu cepat menjemput kakek saya, padahal baru sembilan bulan yang lalu nenek pergi.
 Dan sekarang kakek harus pergi untuk selama-lamanya.  “Semoga kakek dan nenek selalu senantiasa ada di bawah perlindungan Allah SWT.amin.” ternyata wktu itu sangat singkat...waktu kadang lambat bagi yang menunggu..kadang lambat bagi yang terburu-buru..terlalu panjang bagi yang gundah...dan terlalu pendek bagi yang bahagia. Tapi aku harus selalu bersyukur  karena  dari bersyukur itu waktu senantiasa adalah kebahagiaan aku akan terus selalu berusaha bersyukur untuk hari ini dan seterusnya.
            Selamat jalan kakek dan nenek tercinta, cinta saya pada kalian tidak akan pernah bisa hilang sampai kapanpun, saya akan selalu menyimpan dalam denyut jantungku sebuah kasih sayang dari kalian.






KESEDIHAN ITU INDAH
Karena kesedihan itu indah manakala kita mampu menyikapi lapis demi lapis hikmah yang tersembunyi didalamnya, meski demikian  kita harus berjuang untuk mendapatkan keindahan dibalik setiap kesedihan . meski kita harus berjuang untuk mengalahkan fikiran negatif dan sempitnya akal dan nafsu kita yang seringkali membujuk kita untuk lunglai lalu terpuruk dalam kesedihan.Kesedihan itu indah, karena Allah SWT maha dalam setiap kehendak-Nya.
Hiduplah dengan jiwa dan logika untuk sekarang ini masa lalu tidak akan kembali, masa yang datang adalah mimpi.
< 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar